Apa yang Kita Miliki, Kita Jaga
Mengapa hidup hemat dan merawat yang sudah ada adalah bentuk rasa syukur, tanggung jawab, dan kemurahan hati di EGI — bukan sekadar berhemat.
Ringkasan
Di EGI, kita ingin memanfaatkan apa yang kita miliki dengan sadar dan menjaganya dengan baik. Ini berlaku untuk listrik dan air, sama seperti untuk kertas, alat belajar, perlengkapan, dan gedung. Kita membutuhkan semua ini untuk menjalankan tugas kita. Karena itu, kita merawatnya dengan sungguh-sungguh.
Hidup hemat adalah sikap yang tetap berharga, bahkan ketika uang tersedia cukup: apa yang tidak kita butuhkan, tidak kita boroskan. Apa yang berguna bagi kita, kita perlakukan dengan hati-hati. Dengan begitu, sumber daya kita bisa bermanfaat bagi anak-anak selama mungkin dan sebaik mungkin.
Dengan ini, rasa syukur, kecukupan hati, dan tanggung jawab menjadi terlihat dalam keseharian kita.
Butuh Lebih Sedikit, Terbuka Lebih Banyak Peluang
Tanpa hidup hemat, EGI tidak akan pernah ada. Kalau saya tidak hidup hemat secara radikal, mustahil bagi saya untuk mencurahkan sekitar 50% waktu kerja saya tanpa dibayar di Swiss. Gaji saya tidak di atas rata-rata. Di Swiss pun, uang tidak jatuh dari langit.
Kontribusi ini menjadi mungkin karena gaya hidup yang sangat sederhana: saya secara sadar mengurangi konsumsi saya sendiri dan menjaga biaya hidup saya tetap rendah. Untuk itu, saya melepaskan banyak hal yang mungkin bisa saya nikmati kalau bekerja lebih banyak untuk mendapatkan uang. Dengan cara ini, saya bisa berada di Indonesia sekitar enam bulan setahun, dan tetap berkontribusi untuk EGI selama saya di Swiss. Kalau saya mengonsumsi lebih banyak untuk diri sendiri, saya harus menghabiskan lebih banyak waktu untuk mencukupi kebutuhan hidup saya sendiri. Waktu yang tersisa untuk anak-anak dan proyek ini pun akan berkurang.
Apa yang tidak saya pakai untuk diri sendiri, membuka kesempatan bagi orang lain. Hidup hemat justru yang membuat pelayanan ini mungkin terjadi.
Justru di tempat yang serba terbatas, sangat berarti apakah yang sedikit ini bisa bertahan. Kalau barang cepat rusak karena kurang dirawat, dana yang terbatas harus terus dikeluarkan lagi untuk penggantinya. Apa yang seharusnya bisa dipakai untuk perbaikan, malah terpakai hanya untuk kembali ke titik semula.
Kemiskinan punya banyak sebab. Cara kita memperlakukan apa yang sudah ada adalah satu bidang di mana kita sendiri bisa membuat perubahan. Dengan merawat, memikirkan ke depan, dan mengonsumsi secara sadar, kita menjaga apa yang sudah melayani kita, dan membuka ruang untuk langkah berikutnya. Bagi sekolah dan anak-anak kita, ini bisa berarti banyak dalam jangka panjang.
Kemampuan dan keadaan hidup kita berbeda-beda. Namun bersama-sama kita bisa bertanya: Apa yang benar-benar saya butuhkan? Dan apa yang menjadi mungkin, kalau saya cukup dengan yang lebih sedikit?
Belajar dari Kebiasaan yang Penuh Perhatian
Mengapa orang Swiss yang kaya mematikan lampu ketika tidak dibutuhkan, bahkan kalau ia jauh lebih makmur dari rata-rata orang Swiss? Mengapa ia begitu hemat untuk jumlah yang begitu kecil? Secara keuangan, itu hampir tidak membuat perbedaan baginya.
Sikap ini saya temui berulang kali di Swiss, dan saya menganggapnya sebagai teladan. Ini juga terlihat dari bagaimana orang merawat alat-alat mereka dan memperlakukan barang dengan hati-hati selama bertahun-tahun. Yang penting di sini bukan sekadar penghematan satu per satu: apa yang masih bisa dipakai, punya nilai. Apa yang tidak berguna, tidak perlu dihabiskan.
Di situ ada pemikiran yang berharga: hanya karena kita mampu membiayai konsumsi yang tidak perlu, bukan berarti itu menjadi masuk akal. Kebiasaan baik seperti ini bisa kita pelajari satu sama lain dan latih dengan sadar di EGI. Kita bisa membangun dari apa yang sudah berhasil kita lakukan dalam hal hidup hemat, dan belajar lebih banyak di bagian yang selama ini kurang kita perhatikan.
Apakah Ini Pelit?
Siapa yang berhemat sekonsisten ini, apakah ia pelit? Di sini kita perlu membedakan dengan jelas. Menyamakan hidup hemat dengan sifat pelit mengabaikan perbedaan yang sesungguhnya: untuk apa kita menahan sumber daya, dan untuk apa kita menggunakannya?
- Kecukupan hati berarti bisa merasa puas dengan yang cukup, dan membatasi tuntutan diri sendiri.
- Hidup hemat berarti menghindari konsumsi yang tidak perlu, dan memperlakukan apa yang sudah ada dengan hati-hati.
- Pelit berarti terlalu erat memegang uang dan harta, sehingga menyimpan menjadi lebih penting daripada mengeluarkan atau berbagi secara wajar. Milik sendiri bisa jadi lebih diutamakan daripada kebutuhan orang lain.
Orang yang secara sadar membatasi konsumsinya sendiri demi memberi waktu dan sumber daya bagi orang lain, bertindak dengan murah hati. Inilah yang saya maksud di EGI: hidup hemat melayani anak-anak dan tugas bersama kita. Ini memungkinkan kita untuk membagikan sesuatu. Karena itu, hidup hemat yang konsisten pun bukan hal yang perlu dibenarkan, selama itu memungkinkan pelayanan ini dan memperhatikan kebutuhan yang wajar.
Di EGI, hidup hemat harus melayani anak-anak. Karena itu, kita dengan siap menggunakan sumber daya di tempat yang memang membutuhkannya. Penerangan yang cukup, kebersihan, keamanan, dan alat belajar yang baik termasuk di dalamnya. Yang menentukan adalah apakah sebuah pengeluaran memenuhi tujuan yang berarti, dan seberapa hati-hati kita menggunakan hasilnya.
Dalam 1 Timotius 6:6–8, kecukupan hati digambarkan sebagai sesuatu yang berharga. Di pasal yang sama, orang yang memiliki harta diminta untuk berbuat baik, murah hati, dan suka berbagi (ayat 17–19). Hubungan ini sesuai dengan sikap kita: hidup dengan cukup dan siap menolong orang lain.
Apa Artinya dalam Keseharian
Menggunakan dengan Sadar
Banyak keputusan yang kecil, tetapi berulang setiap hari:
- Listrik: Kita menyalakan lampu ketika dibutuhkan, dan mematikannya ketika sudah tidak berguna lagi. Kita memperhatikan pencahayaan dan penggunaan ruang yang sebenarnya. Pada malam hari pun, kita mempertimbangkan penerangan mana yang benar-benar perlu.
- Air: Saat membersihkan, kita memilih cara yang bersih tetapi tidak memboroskan air. Di mana sesuai dengan tugasnya, kita menggunakan ember dan mengganti air yang kotor sesuai kebutuhan.
- Kertas dan tinta: Sebelum mencetak, kita memeriksa untuk apa hasil cetakan itu dibutuhkan dan halaman mana yang benar-benar perlu. Cetakan dan bahan yang sudah ada kita gunakan lagi, selama masih sesuai.
Berpikir ke Depan dan Bertindak Sejak Dini
Tindakan kecil hari ini bisa mencegah kerusakan besar besok. Buku yang lembap bisa dikeringkan tepat waktu. Sekrup yang longgar bisa dikencangkan sebelum sesuatu rusak lebih parah. Kebocoran kecil sebaiknya dilaporkan sebelum menimbulkan kerusakan yang lebih besar.
Setelah digunakan pun, kita memikirkan ke depan: apakah sesuatu perlu dibersihkan atau dikeringkan? Apakah sudah terlindung dari hujan dan kelembapan? Apakah masih akan berfungsi baik saat digunakan lagi nanti?
Menjaga Keteraturan
Keteraturan membantu kita memanfaatkan apa yang sudah ada. Kalau barang tidak punya tempat yang tetap, kita mencarinya lama-lama, melewatkan persediaan yang sudah ada, atau membeli lagi sesuatu yang sebenarnya sudah tersedia.
Karena itu, kita memberi setiap barang tempat penyimpanan yang sesuai dan dikenal, dan mengembalikannya ke sana setelah digunakan. Sebelum membeli sesuatu yang baru, kita memeriksa dulu apa yang sudah ada. Dengan begitu, tetap terlihat apa yang kita miliki, apa yang kurang, dan apa yang perlu dirawat.
Mengambil Inisiatif Sendiri
Sorge tragen dimulai dengan kepedulian. Kalau kita melihat barang kehujanan, kita mengamankannya. Kalau ada sesuatu yang menyala atau terpakai tanpa perlu, kita memeriksa apakah bisa kita matikan. Untuk hal-hal sederhana seperti ini, kita tidak menunggu diminta setiap kali.
Apa yang bisa kita selesaikan sendiri dengan yakin dalam tanggung jawab kita, kita kerjakan. Kerusakan dan masalah yang tidak bisa kita atasi sendiri, kita laporkan sedini mungkin kepada orang yang bertanggung jawab.
Memakai yang Sudah Ada Lebih Lama dan Berulang Kali
Sejak membeli, mencetak, atau merancang sesuatu, kita sudah memikirkan: bisakah ini kita pakai lagi nanti? Bagaimana sebaiknya dirancang dan disimpan supaya bisa dipakai lagi?
Contohnya sebuah spanduk untuk acara tahunan. Kalau tahunnya dicetak permanen di spanduk, mungkin hanya terpasang satu hari dan tidak bisa dipakai lagi tahun depan. Spanduk tanpa tahun yang tetap bisa bertahan beberapa tahun. Kalau tanggalnya penting, itu bisa ditambahkan pada bagian terpisah yang bisa diganti.
Setelah acara selesai, kita menyimpan spanduk itu dengan bersih, kering, dan di tempat yang mudah kita temukan lagi. Penggunaan ulang berhasil kalau kita sudah memikirkannya sejak awal.
Ini juga soal kerendahan hati. Spanduk baru mungkin terlihat lebih bagus atau lebih menarik perhatian. Meski begitu, kita bisa dengan sadar memilih untuk tetap memakai yang sudah ada. Kita tidak harus selalu punya sesuatu yang baru. Pertanyaannya adalah: Apakah apa yang sudah kita miliki masih memenuhi tujuannya dengan baik?
Apa yang Dipelajari Anak-Anak dari Ini
Anak-anak memperhatikan bagaimana kita memperlakukan barang. Kalau kita merawat buku dengan hati-hati, merapikan barang setelah digunakan, dan memperbaiki kerusakan kecil, kita mewariskan kebiasaan yang berharga kepada mereka. Mereka bisa belajar bagaimana menghargai dan menjaga apa yang sudah ada.
Untuk Direnungkan dan Dicoba
Minggu ini, perhatikan baik-baik area kerja Anda:
- Di mana kita mengonsumsi sesuatu yang sebenarnya tidak kita butuhkan?
- Apa yang sekarang butuh perawatan atau tempat penyimpanan yang lebih baik?
- Apa yang bisa kita pakai lagi lain kali, kalau kita merencanakannya secara berbeda hari ini?
Pilih satu perbaikan konkret dan terapkan, untuk proses bersama sesuai kesepakatan dengan tim. Setelah seminggu, bicarakan sebentar apa yang membantu dan apa yang ingin kalian pertahankan.
Pikirkan dulu, gunakan dengan sadar, rawat dengan hati-hati, dan pakai lagi.