Iman dan Alkitab
Mengapa hubungan dengan Tuhan dan kebenaran Alkitab menjadi dasar bagi kehidupan, keputusan, dan seluruh pelayanan EGI.
Ringkasan
Iman kepada Tuhan bukan hanya salah satu bagian dari EGI. Iman adalah dasar yang memberi arah, makna, kekuatan, dan tujuan kepada seluruh pelayanan kita. Pendidikan, pembangunan, pemberdayaan, dan pertolongan kepada sesama sangat penting, tetapi semuanya bersifat sementara jika dipisahkan dari Tuhan.
Kita percaya bahwa manusia menemukan tujuan hidupnya di dalam hubungan dengan Penciptanya. Karena itu, Alkitab menjadi dasar bagi iman, nilai, keputusan, dan cara kita melayani. Kita tidak mengandalkan kemampuan sendiri, tetapi memohon hikmat, kekuatan, dan pertolongan Tuhan. Segala keberhasilan pada akhirnya dikembalikan kepada-Nya.
Seseorang yang memiliki hampir segalanya
Jika ada seorang manusia yang dapat berkata, “Saya sudah mencoba semuanya,” orang itu adalah Salomo.
Ia tidak hanya kaya. Kekayaannya begitu besar sehingga perak dianggap tidak berharga pada zamannya (1Raj. 10:21–23). Ia memiliki istana, tanah, kebun, taman, kolam, ternak, pelayan, dan berbagai proyek pembangunan yang besar. Ia membangun Bait Allah, mendirikan kota-kota, dan memimpin sebuah kerajaan yang kuat (1Raj. 6–10; Pkh. 2:4–8).
Salomo juga tidak hanya berkuasa. Ia dihormati oleh bangsa-bangsa lain. Raja-raja datang untuk mendengar hikmatnya. Ratu dari Syeba menempuh perjalanan jauh karena ingin melihat sendiri apakah berita tentang kebijaksanaan dan keberhasilannya benar (1Raj. 10:1–9).
Ia memiliki pengetahuan yang luas. Ia berbicara tentang tumbuh-tumbuhan, binatang, burung, ikan, dan berbagai bidang kehidupan. Ia menggubah ribuan amsal dan nyanyian (1Raj. 4:29–34). Ia mengenal ilmu, seni, pemerintahan, ekonomi, pembangunan, dan kehidupan manusia.
Ia juga menikmati kesenangan dalam kelimpahan. Ia memiliki musik, pesta, kemewahan, anggur, dan semua yang menarik bagi matanya. Ia sendiri menulis:
“Apa pun yang diinginkan mataku, tidak ada yang aku tahan.”
— Pengkhotbah 2:10
Hampir setiap hal yang dikejar manusia ada dalam hidup Salomo: kekayaan, pekerjaan besar, keberhasilan, pengetahuan, kehormatan, kuasa, hubungan, hiburan, dan kenikmatan.
Lalu apa kesimpulannya?
“Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia.”
— Pengkhotbah 1:2
Ia memeriksa kesenangan dan menemukan bahwa itu tidak cukup (Pkh. 2:1–2). Ia membangun banyak hal, tetapi itu tidak memberikan jawaban terakhir (Pkh. 2:4–11). Ia mengejar hikmat, tetapi bahkan orang berhikmat tetap akan mati dan akhirnya dilupakan (Pkh. 2:14–16). Ia bekerja keras, tetapi hasil pekerjaannya harus ditinggalkan kepada orang lain yang belum tentu menggunakannya dengan bijaksana (Pkh. 2:18–23). Ia melihat kekayaan, kuasa, ketidakadilan, persaingan, dan ambisi manusia. Berkali-kali ia sampai pada kesimpulan yang sama:
Semua itu seperti “usaha menjaring angin” (Pkh. 1:14; 2:11,17,26).
Bayangkan mencoba menangkap angin dengan tangan. Kita dapat merasakannya, mengejarnya, dan mengulurkan tangan sekuat tenaga, tetapi pada akhirnya tangan kita tetap kosong. Itulah gambaran Salomo tentang kehidupan yang dibangun hanya di atas hal-hal duniawi.
Jika semuanya sementara, apa yang benar-benar berarti?
Salomo tidak mengatakan bahwa pekerjaan, pengetahuan, keluarga, kekayaan, atau kenikmatan selalu buruk. Alkitab juga tidak mengajarkan bahwa manusia harus menolak semua hal baik yang Tuhan berikan. Masalahnya muncul ketika sesuatu yang sementara dijadikan tujuan tertinggi.
Kekayaan dapat dipakai, tetapi tidak dapat dibawa melewati kematian (1Tim. 6:7). Pengetahuan sangat berharga, tetapi pengetahuan manusia tetap terbatas. Kekuasaan dapat hilang. Kesehatan dapat berubah. Prestasi dapat dilupakan. Bahkan pekerjaan yang baik dan berdampak tetap berlangsung di dunia yang sementara.
Karena itu, jika EGI hanya membangun sekolah, meningkatkan kualitas pendidikan, menolong keluarga, atau mengurangi penderitaan, kita memang dapat membuat kehidupan banyak orang menjadi lebih baik. Hal itu penting dan harus dilakukan dengan sungguh-sungguh. Namun jika seluruh pelayanan berhenti pada dunia ini, pada akhirnya semuanya tetap berhadapan dengan keterbatasan, penderitaan, dan kematian.
Sebuah gedung dapat rusak. Sebuah program dapat berakhir. Pengetahuan dapat dilupakan. Satu generasi akan digantikan oleh generasi berikutnya. Tanpa Tuhan, bahkan pelayanan yang terlihat berhasil dapat kehilangan makna yang kekal.
Karena itu, tujuan terdalam kita bukan sekadar menghasilkan kehidupan yang lebih nyaman, lebih terdidik, atau lebih berhasil. Kita ingin hidup dan melayani di dalam hubungan dengan Tuhan. Di dalam Dia, pekerjaan sementara menerima makna yang melampaui waktu. Apa pun yang kita lakukan dapat menjadi bentuk kasih, ketaatan, dan penyembahan kepada-Nya (Kol. 3:17,23; 1Kor. 10:31).
Pada akhir kitab Pengkhotbah, setelah meneliti begitu banyak jalan hidup, Salomo menyimpulkan:
“Takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang.”
— Pengkhotbah 12:13
Manusia tidak diciptakan hanya untuk memiliki, menikmati, membangun, atau mencapai sesuatu. Manusia diciptakan untuk mengenal Tuhan, hidup bersama-Nya, dan memuliakan-Nya.
Siapa yang paling memahami kehidupan manusia?
Bayangkan seseorang merancang dan membangun sebuah pesawat yang sangat canggih. Pesawat itu terdiri dari ribuan bagian yang saling terhubung. Mesin, sayap, sistem navigasi, bahan bakar, tekanan udara, dan perangkat keselamatan harus bekerja dengan benar.
Sekarang bayangkan kita ingin menerbangkan pesawat itu. Kepada siapa kita akan bertanya tentang cara menggunakannya?
Apakah kita akan bertanya kepada orang yang belum pernah melihat pesawat? Apakah kita akan meminta pendapat sebanyak mungkin, lalu memilih jawaban yang paling kita sukai? Apakah kita akan menekan semua tombol dan berharap tidak terjadi apa-apa?
Tentu tidak.
Kita akan bertanya kepada orang yang merancang dan membangunnya. Kita akan membaca petunjuk yang dibuat oleh produsen. Mengapa? Karena pembuatnya mengetahui bagaimana setiap bagian bekerja, apa tujuan pesawat itu, apa yang aman, apa yang berbahaya, dan apa yang harus dilakukan ketika muncul masalah.
Prinsip yang sama berlaku bagi kehidupan manusia.
Jika Allah adalah Pencipta kita, maka tidak ada yang lebih memahami manusia daripada Dia. Ia mengetahui tubuh kita, pikiran kita, kebutuhan kita, kelemahan kita, hubungan kita, dan tujuan hidup kita. Ia mengenal kita bahkan sebelum kita lahir (Mzm. 139:13–16). Kita diciptakan menurut gambar-Nya dan bagi tujuan-Nya (Kej. 1:26–27; Kol. 1:16).
Karena itu, kita tidak ingin menentukan sendiri apa yang benar dan salah hanya berdasarkan perasaan, budaya, kebiasaan, atau pendapat yang sedang populer. Semua itu dapat berubah. Kita ingin bertanya kepada Tuhan dan membangun hidup di atas Firman-Nya.
Alkitab sebagai dasar kebenaran dan kehidupan
Bagi EGI, Alkitab bukan sekadar buku agama, kumpulan cerita lama, atau bahan untuk renungan. Alkitab adalah Firman Tuhan yang menjadi dasar untuk mengenal-Nya, memahami kebenaran, menilai kehidupan, dan mengambil keputusan.
“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.”
— 2 Timotius 3:16
Ayat berikutnya menjelaskan tujuannya: supaya manusia diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik (2Tim. 3:17). Jadi, Alkitab tidak hanya memberi pengetahuan. Firman Tuhan membentuk manusia dan mempersiapkannya untuk hidup serta bertindak dengan benar.
Firman Tuhan menolong kita untuk bertanya:
- Apa yang benar, bukan hanya apa yang mudah?
- Apa yang baik bagi anak, bukan hanya apa yang nyaman bagi orang dewasa?
- Apakah keputusan ini lahir dari kasih, kejujuran, dan tanggung jawab?
- Apakah kita menggunakan waktu, uang, kemampuan, dan kesempatan dengan setia?
- Apakah cara kita bekerja mencerminkan karakter Kristus?
- Apakah kita sungguh melayani atau hanya mencari pengakuan?
Alkitab digambarkan sebagai pelita bagi kaki dan terang bagi jalan (Mzm. 119:105). Pelita tidak selalu menunjukkan seluruh perjalanan sekaligus, tetapi memberi cukup terang untuk mengambil langkah berikutnya. Demikian juga, kita tidak selalu mengetahui seluruh masa depan EGI. Namun kita percaya bahwa Tuhan memberi hikmat yang cukup untuk berjalan dalam ketaatan hari demi hari.
Kita bergantung kepada Tuhan
EGI tidak dibangun hanya dengan strategi, uang, pengetahuan, atau kerja keras. Semua itu penting, tetapi tidak cukup.
Kita dapat membuat rencana yang baik, tetapi Tuhanlah yang memberi kesempatan. Kita dapat mengajar dengan sungguh-sungguh, tetapi Tuhanlah yang bekerja di dalam hati manusia. Kita dapat menanam dan menyiram, tetapi Tuhanlah yang memberi pertumbuhan (1Kor. 3:6–7).
Karena itu, kita ingin memegang dua kebenaran secara bersamaan.
Pertama, kita dipanggil untuk bekerja dengan tekun, bertanggung jawab, dan menggunakan kemampuan yang Tuhan percayakan kepada kita. Alkitab tidak memuji kemalasan. Perumpamaan tentang talenta menunjukkan bahwa kesiapan bagi kedatangan Tuhan terlihat dari bagaimana seseorang menggunakan apa yang dipercayakan kepadanya (Mat. 25:14–30). Waktu, pengetahuan, uang, kemampuan, pengaruh, dan kesempatan bukanlah milik yang dapat kita sia-siakan. Semua itu adalah kepercayaan yang harus dipertanggungjawabkan.
Kedua, kita tidak boleh menganggap keberhasilan sebagai hasil kekuatan kita sendiri. Tanpa Tuhan kita tidak dapat menghasilkan buah yang kekal (Yoh. 15:5). Hikmat berasal dari-Nya (Yak. 1:5). Kekuatan, kesehatan, kesempatan, orang-orang yang tepat, pintu yang terbuka, dan setiap hasil baik adalah anugerah.
Karena itu kita berdoa, merencanakan, bekerja, mengevaluasi, dan memperbaiki diri. Namun ketika ada keberhasilan, kita tidak berkata, “Ini terjadi karena kita hebat.” Kita berkata, “Tuhan telah menolong dan memberi pertumbuhan.”
“Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.”
— Amsal 3:5–6
Memberi kemuliaan kepada Tuhan bukan berarti meremehkan kerja manusia. Sebaliknya, itu berarti mengakui dengan jujur dari mana kemampuan, kesempatan, dan hasil itu berasal.
Iman yang terlihat dalam kehidupan dan pelayanan
Hubungan dengan Tuhan tidak dapat dipisahkan dari cara seseorang hidup. Iman yang hanya ada dalam kata-kata, tetapi tidak menghasilkan perubahan dalam karakter dan tindakan, adalah iman yang mati (Yak. 2:14–17).
Namun ini tidak berarti bahwa manusia diselamatkan melalui perbuatan baik. Keselamatan adalah anugerah Tuhan, bukan hasil usaha manusia (Ef. 2:8–9). Ayat berikutnya juga mengatakan bahwa kita diciptakan dalam Kristus untuk melakukan pekerjaan baik yang telah Tuhan persiapkan (Ef. 2:10).
Urutannya penting: perbuatan baik bukan akar keselamatan, tetapi buah dari iman yang hidup.
Karena itu, hubungan dengan Kristus seharusnya terlihat dalam kasih, kejujuran, kerendahan hati, kesetiaan, pengampunan, tanggung jawab, keberanian, dan kesediaan untuk melayani. Iman memengaruhi cara guru memperlakukan anak, cara pemimpin menggunakan wewenang, cara tim menghadapi konflik, cara uang digunakan, dan cara pekerjaan kecil dilakukan ketika tidak ada orang yang melihat.
Visi EGI, “Membawa kasih dan menolong yang membutuhkan,” lahir dari dasar ini. Kita tidak ingin hanya berbicara tentang kasih. Kita ingin kasih menjadi nyata melalui kehidupan, perkataan, pendidikan, pertolongan, dan pelayanan.
Alkitab berkata:
“Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya.”
— Amsal 3:27
Dalam Matius 25, Yesus menghubungkan pelayanan kepada mereka yang lapar, haus, asing, tidak berpakaian, sakit, dan dipenjara dengan pelayanan kepada-Nya sendiri (Mat. 25:31–46). Bagian ini datang langsung setelah perumpamaan tentang talenta. Keduanya menekankan bahwa kesetiaan kepada Tuhan bukan sesuatu yang abstrak. Kesetiaan terlihat dalam cara kita menggunakan apa yang telah dipercayakan kepada kita dan dalam cara kita merespons kebutuhan yang ada di depan kita.
Dosa bukan hanya melakukan apa yang salah. Ada juga dosa karena mengetahui hal yang baik, tetapi tidak melakukannya (Yak. 4:17). Kelalaian, sikap acuh, kemampuan yang tidak digunakan, dan kesempatan untuk menolong yang sengaja diabaikan dapat sama seriusnya dengan tindakan yang jelas-jelas salah.
Namun menolong orang yang membutuhkan bukan ringkasan lengkap dari seluruh kehidupan Kristen. Hubungan dengan Tuhan memengaruhi setiap bidang kehidupan dan menghasilkan banyak bentuk ketaatan. Dalam konteks panggilan EGI, pelayanan nyata kepada sesama mendapat perhatian khusus karena Tuhan telah menempatkan kita di tengah kebutuhan pendidikan dan sosial yang nyata.
Pada saat yang sama, kasih tidak hanya memperhatikan kebutuhan sementara manusia. Yesus juga memerintahkan murid-murid-Nya untuk pergi, menjadikan semua bangsa murid-Nya, membaptis, dan mengajar mereka melakukan segala sesuatu yang telah Ia perintahkan (Mat. 28:19–20; Mrk. 16:15).
Karena itu, melalui pelayanan EGI kita ingin membawa kasih secara utuh: menolong secara nyata dan membagikan Kabar Baik tentang Yesus dengan bijaksana, penuh kasih, dan sesuai dengan konteks. Kedua hal ini bukan dua kegiatan yang tidak berhubungan. Keduanya lahir dari kasih kepada Tuhan dan sesama.
Hubungan dengan Tuhan sebagai dasar bagi tim EGI
EGI tidak mengharapkan karyawan yang sempurna. Tidak ada seorang pun yang sudah selesai bertumbuh. Kita semua masih belajar, dibentuk, ditegur, dipulihkan, dan dikuatkan oleh Tuhan.
Namun khususnya bagi guru dan mereka yang memengaruhi kehidupan anak-anak, hubungan pribadi dengan Tuhan bukan sekadar tambahan. Seorang guru tidak hanya menyampaikan materi. Ia menjadi teladan melalui cara berbicara, bereaksi, mengampuni, bekerja, menggunakan waktu, menghadapi masalah, dan memperlakukan orang yang lemah.
Anak-anak sering belajar lebih banyak dari kehidupan guru daripada dari kata-katanya. Karena itu, kehidupan rohani guru akan memengaruhi suasana kelas, cara disiplin diterapkan, cara kesalahan ditanggapi, dan cara setiap anak dihargai.
Kita tidak mencari penampilan rohani atau kebiasaan agama yang dilakukan untuk dilihat orang. Kita menginginkan kehidupan yang sungguh-sungguh berakar di dalam Kristus dan terus menghasilkan buah (Gal. 5:22–23).
Kita ingin menjadi tim yang dapat berkata dengan jujur:
- kita membutuhkan Tuhan;
- kita terbuka untuk ditegur oleh Firman-Nya;
- kita mau bertumbuh;
- kita mengakui kesalahan;
- kita meminta pertolongan ketika lemah;
- kita menggunakan kemampuan dengan setia;
- dan kita mengembalikan segala kemuliaan kepada Tuhan.
Praktik kehidupan rohani
Hubungan dengan Tuhan tidak tumbuh hanya karena seseorang bekerja di organisasi Kristen. Kedekatan dengan kegiatan rohani tidak otomatis berarti kedekatan dengan Tuhan. Hubungan harus dipelihara secara pribadi dan terus-menerus.
Beberapa kebiasaan berikut sangat dianjurkan bagi anggota tim EGI.
1. Menyediakan waktu pribadi bersama Tuhan setiap hari
Luangkan waktu untuk membaca Alkitab, merenungkan Firman Tuhan, dan berdoa. Tujuannya bukan sekadar menyelesaikan kewajiban, tetapi mengenal Tuhan, mendengarkan-Nya, menyerahkan kehidupan kepada-Nya, dan membiarkan Firman-Nya memperbarui pikiran.
Waktu yang singkat tetapi teratur sering kali lebih baik daripada rencana besar yang hanya dilakukan sesekali. Yang penting adalah kesetiaan dan keterbukaan hati.
Panduan langkah demi langkah untuk membangun kebiasaan ini dapat dibaca di Waktu Pribadi bersama Sang Raja.
2. Membaca Alkitab dengan tujuan untuk taat
Jangan hanya bertanya, “Apa arti ayat ini?” Tanyakan juga:
- Apa yang ayat ini tunjukkan tentang Tuhan?
- Apa yang perlu saya percaya?
- Apakah ada sikap yang harus saya ubah?
- Apakah ada perintah yang perlu saya lakukan?
- Bagaimana kebenaran ini memengaruhi pekerjaan saya hari ini?
Yesus membandingkan orang yang mendengar dan melakukan firman-Nya dengan orang yang membangun rumah di atas batu (Mat. 7:24–27).
3. Membawa keputusan dan tantangan dalam doa
Berdoalah sebelum mengambil keputusan penting, ketika menghadapi masalah dengan anak, ketika terjadi konflik, dan ketika tidak mengetahui langkah berikutnya. Meminta hikmat bukan tanda kelemahan, melainkan pengakuan bahwa pemahaman kita terbatas (Yak. 1:5).
Doa juga tidak menggantikan tanggung jawab untuk berpikir dan bekerja. Doa menempatkan seluruh proses itu di bawah pimpinan Tuhan.
4. Mengikuti persekutuan dan gereja
Setiap anggota tim dianjurkan untuk menjadi bagian dari gereja lokal dan bersekutu secara teratur dengan orang percaya lainnya (Ibr. 10:24–25). Ini bukan hukum untuk mendapatkan penerimaan Tuhan, tetapi sarana penting untuk bertumbuh, menerima pengajaran, saling menguatkan, dan hidup dalam pertanggungjawaban.
Iman Kristen tidak dirancang untuk dijalani sendirian.
5. Bertumbuh bersama dalam kelompok kecil
Kelompok kecil dapat menjadi tempat untuk membaca Alkitab, berdoa, berbagi pergumulan, saling menolong, dan mengevaluasi pertumbuhan. Tujuannya bukan mengawasi kehidupan orang lain, tetapi menciptakan komunitas yang jujur dan saling membangun.
6. Berdoa bagi anak-anak dan rekan kerja
Guru tidak hanya mempersiapkan pelajaran untuk anak-anak. Guru juga dapat membawa nama, kebutuhan, keluarga, dan pertumbuhan mereka di dalam doa. Hal yang sama berlaku bagi rekan kerja. Doa menolong kita melihat orang bukan hanya sebagai masalah yang harus diselesaikan, tetapi sebagai pribadi yang dikasihi Tuhan.
7. Menghubungkan iman dengan pekerjaan sehari-hari
Iman tidak hanya muncul ketika berdoa atau membaca Alkitab. Iman terlihat ketika seseorang datang tepat waktu, menepati janji, mengakui kesalahan, menjaga uang dengan jujur, mempersiapkan pelajaran dengan baik, merawat fasilitas, mendengarkan anak, dan menyelesaikan tugas sekalipun tidak ada yang mengawasi.
Apa pun yang kita lakukan, kita ingin melakukannya dengan segenap hati seperti untuk Tuhan dan bukan hanya untuk manusia (Kol. 3:23).
Pertanyaan refleksi
- Apakah Tuhan benar-benar menjadi pusat hidup dan pelayanan saya, atau hanya menjadi bagian kecil di samping tujuan-tujuan lain?
- Apakah saya sedang mencari makna terutama melalui keberhasilan, penghargaan, uang, posisi, atau kenyamanan?
- Apakah saya memberi ruang kepada Firman Tuhan untuk menegur dan mengubah cara berpikir saya?
- Apakah saya mengambil keputusan berdasarkan kebenaran Alkitab atau terutama berdasarkan perasaan dan kebiasaan?
- Apakah saya berdoa dan bergantung kepada Tuhan, atau hanya mengandalkan kemampuan sendiri?
- Apakah iman saya terlihat dalam cara saya bekerja dan memperlakukan orang lain?
- Apa yang Tuhan telah percayakan kepada saya, dan apakah saya menggunakannya dengan setia?
- Apakah ada kebaikan yang sebenarnya mampu saya lakukan, tetapi terus saya tunda?
- Apakah saya memiliki kebiasaan rohani yang membantu saya terus bertumbuh?
- Ketika pelayanan berhasil, kepada siapa saya memberikan kemuliaan?
Penutup
Salomo memiliki hampir segala sesuatu yang dicari manusia. Namun semua itu tidak dapat memberikan makna yang kekal. Kekayaan, ilmu, kuasa, pekerjaan, kenikmatan, dan keberhasilan tetap terbatas. Semuanya menjadi seperti usaha menjaring angin ketika dipisahkan dari Tuhan.
Karena itu, EGI tidak ingin membangun hanya di atas kemampuan manusia. Kita ingin membangun di atas hubungan dengan Tuhan dan kebenaran Firman-Nya.
Alkitab memberi arah. Tuhan memberi hikmat, kekuatan, kesempatan, dan pertumbuhan. Iman yang hidup menghasilkan karakter, ketaatan, kasih, dan pelayanan nyata.
Kita tidak mengharapkan kesempurnaan. Kita mengharapkan kerendahan hati untuk terus belajar dan bertumbuh. Kita ingin setiap anggota tim semakin mengenal Tuhan, semakin dibentuk oleh Firman-Nya, semakin setia menggunakan apa yang dipercayakan kepadanya, dan semakin siap melayani orang lain.
Pada akhirnya, segala sesuatu berasal dari Tuhan, berlangsung oleh Tuhan, dan kembali kepada Tuhan. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya (Rm. 11:36).